Kamis, 21 Agustus 2008

Putera-puteri terbaik negeri. Nasibmu kini...

Hari ini tanggal 21 agustus 2008 pukul 06.50 terdapat kabar yang cukup miris. Pada siaran redaksi pagi yang ditayangkan Trans7, tersiar kabar bahwa seorang anak kelas 5 SD ,yang merupakan juara 3 dunia dalam turnamen catur cilik internasional di Singapura, bersama bapaknya terlantarkan di jakarta selama 2 hari setelah memenuhi undangan dari Depdiknas untuk bertemu dengan Presiden RI. Mereka mengaku tidak mempunyai ongkos untuk pulang ke Riau. Saat ini mereka ditampung di pos PDI-P di jakarta. Akhirnya para warga sekitar merogoh kantong mereka untuk membantu membiayai bapak dan anak ini pulang ke Riau.

Tidak habis pikir. Entah bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Seorang puteri bangsa yang telah mengharumkan negeri ini di kancah internasional diperlakukan bak gelandangan di negeri sendiri. Tidak usah berbicara untuk dapat menghargai pahlawan perjuangan yang sudah tiada, kalau untuk menghargai pahlawan yang masih hidup pun kita sulit. Apa mungkin mereka menganggap apa yang dilakukan anak tersebut bukanlah suatu tindak kepahlawanan?
Apakah seseorang harus mati terlebih dahulu untuk dapat disebut pahlawan?
Kapan bangsa ini akan dewasa?

Mungkin hal-hal seperti itulah yang membuat putera-puteri terbaik negeri ini hilang bagai ditelan bumi. Jika pun mereka masih ada, mereka lebih memilih untuk membangun bangsa lain karena merasa kemampuan mereka lebih dihargai diluar sana.
Apa yang kurang dari negeri ini?
Setiap tahun bangsa ini selalu menelurkan bakat terbaiknya dari berbagai bidang. Indonesia selalu mampu menyumbangkan medali olimpiade ilmu pengetahuan setiap tahunnya. Tapi setelah itu hilang namanya.
Sebuah sistem kah yang membuat seperti ini? Atau kebiasaan jelek?

Negeri ini harus mau untuk belajar menghargai sesuatu.

Senin, 18 Agustus 2008

Nasionalisme anggrek

Apa yg akan kita pikirkan ketika melihat sekuncup anggrek merekah dengan anggunnya. tetapi kemudian kelopaknya berguguran satu demi satu hingga akhirnya habis tak tersisa?

Negeri ini sudah menginjak umurnya yang ke 63. Terlalu banyak perubahan yang terjadi, begitu banyak sehingga hanya dapat direkam oleh bisunya ingatan sejarah. Di ulang tahunnya yang ke 63, negeri ini terlihat tak terlalu kokoh untuk dipijak, terlalu lamban untuk berlari. Rasa nasionalisme rakyatnya seakan luntur termakan zaman. Tidak ada lagi ada kebanggaan menjadi seorang putera negeri. Sebuah negeri yang sangat makmur, negeri yang pernah mengguncang malaya hingga madagaskar, dan negeri yang selalu dibela para pejuangnya demi kebebasan bangsanya saat ini.
Kita harus sadar bahwa setiap menit kebebasan hidup kita dan setiap jengkal tanah yang kita lalui merupakan tetesan keringat dan darah para pejuang.

Apa yang telah kau berikan terhadap negaramu?

Pernahkah sekali saja kau merenungkan hal tersebut?

Jangan pernah berpikir egois. Bangsa ini tidak perlu mencari
Alasan dan sebuah pembenaran untuk dapat berbakti kepada negaranya. Rasa kebanggaan terhadap Indonesia lebih dari sekedar hitung-hitungan sebuah tanda jasa. Kebanggaan terhadap Indonesia adalah tonggak moralitas jati diri sebuah bangsa.

Kebanggaan dan rasa persatuan dan kesatuan negeri ini telah muncul lebih dari satu abad lalu. Persatuan itu tumbuh subur dalam untaian kepulauan, melintasi gunung bahkan laut, menembus batas ruang dan waktu dengan siraman jutaan derita dan pengorbanan di tiap jengkal tanahnya. Para pejuang sejati negeri ini
Memiliki rasa itu. Sebuah rasa kebanggaan, rasa persatuan, rasa kesatuan, dan rasa memiliki negeri ini dimana puluhan juta harapan tertanam dalam jantung mereka. Mereka berjuang untuk bangsanya di seantero negeri pertiwi ini. Yaitu sebuah negeri yang diikat sebuah tali persaudaraan pada setiap warga bangsanya. Dan rasa persaudaraan itulah yang membuat mereka rela berkorban kepada setiap anggota bangsanya. Tapi jauh dalam jiwa mereka telah tumbuh rasa persatuan dan ikatan persaudaraan. Dimana mereka bersedia mati demi suatu persaudaraan yang hanya ada dalam benaknya karena toh pada kenyataannya mereka tidak mengenal satu sama lain.

Negeri ini sudah terlalu lelah menanti kehadiran seorang yang mampu membawa rakyatnya keluar dari keterpurukan. Di umurnya yang baru ini selalu terpanjat doa akan datangnya harapan-harapan baru kejayaan negeri nusantara jaya. Semua itu hanya dapat dilakukan dengan sebuah keyakinan akan Partisipasi rakyat yang merupakan skema kebangkitan sebuah negeri.
Kita harus tetap optimis dan memandang jauh ke depan sebagai individu visioner dan rasioempati. Insya Allah, negeri ini akan lebih baik di masa datang.

Dengan begitu dapatlah diambil kesimpulan tentang jenjang hidup dari sebuah anggrek. Anggrek yang biasa dipanggil pesona hidup nusantara Indonesia.
Apa yang terjadi dengan anggrek yang telah hilang keindahannya itu?
Anggrek itu tidak mati. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali hidup dan merekah dengan warna yang lebih indah. Lebih indah pada setiap pesona kuncupnya.

Nasionalisme anggrek

Apa yg akan kita pikirkan ketika melihat sekuncup anggrek merekah dengan anggunnya. tetapi kemudian kelopaknya berguguran satu demi satu hingga akhirnya habis tak tersisa?

Negeri ini sudah menginjak umurnya yang ke 63. Terlalu banyak perubahan yang terjadi, begitu banyak sehingga hanya dapat direkam oleh bisunya ingatan sejarah. Di ulang tahunnya yang ke 63, negeri ini terlihat tak terlalu kokoh untuk dipijak, terlalu lamban untuk berlari. Rasa nasionalisme rakyatnya seakan luntur termakan zaman. Tidak ada lagi ada kebanggaan menjadi seorang putera negeri. Sebuah negeri yang sangat makmur, negeri yang pernah mengguncang malaya hingga madagaskar, dan negeri yang selalu dibela para pejuangnya demi kebebasan bangsanya saat ini.
Kita harus sadar bahwa setiap menit kebebasan hidup kita dan setiap jengkal tanah yang kita lalui merupakan tetesan keringat dan darah para pejuang.

Apa yang telah kau berikan terhadap negaramu?

Pernahkah sekali saja kau merenungkan hal tersebut?

Jangan pernah berpikir egois. Bangsa ini tidak perlu mencari
Alasan dan sebuah pembenaran untuk dapat berbakti kepada negaranya. Rasa kebanggaan terhadap Indonesia lebih dari sekedar hitung-hitungan sebuah tanda jasa. Kebanggaan terhadap Indonesia adalah tonggak moralitas jati diri sebuah bangsa.

Kebanggaan dan rasa persatuan dan kesatuan negeri ini telah muncul lebih dari satu abad lalu. Persatuan itu tumbuh subur dalam untaian kepulauan, melintasi gunung bahkan laut, menembus batas ruang dan waktu dengan siraman jutaan derita dan pengorbanan di tiap jengkal tanahnya. Para pejuang sejati negeri ini
Memiliki rasa itu. Sebuah rasa kebanggaan, rasa persatuan, rasa kesatuan, dan rasa memiliki negeri ini dimana puluhan juta harapan tertanam dalam jantung mereka. Mereka berjuang untuk bangsanya di seantero negeri pertiwi ini. Yaitu sebuah negeri yang diikat sebuah tali persaudaraan pada setiap warga bangsanya. Dan rasa persaudaraan itulah yang membuat mereka rela berkorban kepada setiap anggota bangsanya. Tapi jauh dalam jiwa mereka telah tumbuh rasa persatuan dan ikatan persaudaraan. Dimana mereka bersedia mati demi suatu persaudaraan yang hanya ada dalam benaknya karena toh pada kenyataannya mereka tidak mengenal satu sama lain.

Negeri ini sudah terlalu lelah menanti kehadiran seorang yang mampu membawa rakyatnya keluar dari keterpurukan. Di umurnya yang baru ini selalu terpanjat doa akan datangnya harapan-harapan baru kejayaan negeri nusantara jaya. Semua itu hanya dapat dilakukan dengan sebuah keyakinan akan Partisipasi rakyat yang merupakan skema kebangkitan sebuah negeri.
Kita harus tetap optimis dan memandang jauh ke depan sebagai individu visioner dan rasioempati. Insya Allah, negeri ini akan lebih baik di masa datang.

Dengan begitu dapatlah diambil kesimpulan tentang jenjang hidup dari sebuah anggrek. Anggrek yang biasa dipanggil pesona hidup nusantara Indonesia.
Apa yang terjadi dengan anggrek yang telah hilang keindahannya itu?
Anggrek itu tidak mati. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali hidup dan merekah dengan warna yang lebih indah. Lebih indah pada setiap pesona kuncupnya.

iklan

contacts