Selasa, 24 Juni 2008
Golongan putih adalah pemenangnya
Tetapi dibalik semua fenomena jadul tersebut, kini muncul fenomena-fenomena lain yang tidak kalah menarik dan mencengangkan. Fenomena tersebut bernama golongan putih. Golongan putih adalah orang yang enggan menggunakan hak yang dimilikinya karena sesuatu hal.
Menurut pengolahan dari berbagai sumber, Pada pilkada kali ini tingkat partisipasi masyarakat cenderung menurun. Misalnya pada pilkada di daerah Jawa Barat yang menghasilkan golput sebesar 35% dari total masyarakatnya. Sedangkan gubernur terpilih Jawa Barat hanya meraih suara sebanyak sekitar 30% dari total partisipan pilkada. Berarti jika nilai partisipasi golput itu diberdayagunakan maka bukan tidak mungkin dapat menjadi kekuatan massa yang baru. Contoh lain misalnya pada pilkada Jawa Tengah dimana tingkat golput mencapai sekitar 45% dari total masyarakat Jawa Tengah. Sedangkan pemenang pilkada Jawa Tengah hanya meraih 47% dari total partisipan pilkada atau hanya sekitar 24% dari total masyarakat Jawa Tengah.
Fenomena ini mungkin terjadi karena semakin rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemimpin-pemimpin terdahulu yang berakibat pada krisis kepercayaan saat ini. Kita tidak dapat menyalahkan masyarakt yang sudah mulai jemu dan bosan dengan semua obral janji pemerintah. Daripada pusing memikirkan janji- janji para pemimpin yang tak kunjung terealisasi maka masyarakat lebih senang untuk mengindahkn momen pemilihan tersebut. Masyarakat sudah benar-benar apatis karena siapapun nanti yang terpilih toh kehidupan mereka akan tetap saja sama.
Hari ini rakyat Indonesia benar-benar membutuhkan figur seorang pemimpin yang mampu membangkitkan kembali semangat berbangsa dan bernegara. Tidak lagi ada tokoh karismatik yang mampu mengajak rakyatnya untuk bersama-sama membangun negeri ini. Saat ini semua orang melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri tanpa harus peduli dengan ketidakberuntungan orang lain. Mungkin benar kata Alm. Pramudya Ananta Toer bahwa bangsa ini terlalu banyak melahirkan pembesar bukan pemimpin.
Indonesia ini harus lebih baik di masa datang.
Paradigma pilkada Indonesia
Dari beberapa pilkada yang telah dilaksanakan, ada beberapa paradigma baru yang berkembang di masyarakat. Hal-hal baru tersebut antara lain munculnya calon-calon muda yang maju ke ajang pemilihan tersebut. Dan nyatanya di beberapa pilkada ternyata partai yang mengusung calon muda lebih diminati kini. Hal itu merupakan tanda bahwa masyarakat saat ini ingin mencoba suatu perjalanan dan pengalaman politik yang baru dengan harapan tercapainya masyarakat yang sejahtera. Terlihat sekali masyarakat kini ingin sekali menemui suatu perubahan. Calon Pasangan pemimpin muda saat ini dapat dinilai positif dalam perjalanan kereta politik di Indonesia dalam menentang dominasi pemimpin yang dinilai sudah out of date. Mungkin masyarakat menganggap karakter yang dimiliki pemimpin lama karena dianggap tidak mampu menjalankan dan mencerminkan keinginan rakyatnya. Pemimpin-pemimpin terdahulu dianggap hanya bergelora pada masa kampanye, tapi loyo disaat memimpin.
Paradigma kedua adalah munculnya partai-partai alternatif sebagai pemenang di beberapa pilkada. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai jenuh dengan mesin politik yang ada. Mesin politik yang ada dinilai sudah uzur dengan mesin yang kolot dan para kelasinya yang setia berpegang teguh terhadap sang kapten yang mempertahankan pemikiran lamanya tanpa mampu mengikuti perkembangan zaman. Ibarat sebuah mobil angkutan yang tua. Lama-lama akan ditinggalkan para penumpangnya yang lebih memilih angkutan dengan mesin terbaru dan SDM modern.
Beberapa hal diatas bukannya merupakan tanda-tanda akan matinya partai-partai kolot yang telah bertahan lama. Tapi merupakan batu sandungan untuk mengingatkan bahwa masyarakat butuh sebuah nafas baru yang segar. Mereka sudah muak dengan kinerja pendekar-pendekar politik tua yang dimana kebijakan-kebijakan politiknya dianggap tidak mampu lagi mencerminkan pola keinginan bangsa.
Bangsa ini tidak perlu pemimpin yang dapat menghasilkan emas permata, bangsa ini tidak perlu pemimpin yang sangat jenius dengan gelar yang berceceran di belakangnya. Bangsa ini hanya membutuhkan pemimpin yang mengerti jalan pikiran rakyat. Pemimpin yang berorientasi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Bangsa ini tidak memerlukan seorang yang superior melainkan pemimpin yang mampu sedikit saja membawa perubahan.
Kamis, 12 Juni 2008
Meninggal ketika sujud
Kisah nyata: Menjelajahi Akhirat
'Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia'. Pengalaman mati suri
seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia. Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ LegisanSugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr Raymond. Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia
sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak
kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) . Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia . Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi. ''Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,' 'jelas Rustam. Oleh> karena itu Aslina. hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya
sesak.Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ''Aslina seperti
kesaksiaanya.
''Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,'' begitu ia
mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ''Saya telah merasakan mati,'' ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu. ''Sungguh sakitnya, Pak, Bu,'' ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ .
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ''Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,'' tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ''Saat di ujung napas, saya berzikir,'' ujarnya.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ''Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,'' ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ''siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu. " Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ''Tak ada teman kecuali amal,'' tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.
Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu
ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang
tersebut.
Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah mati,'' sekali lagi ia mengajak hadirin
untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu iamemanggil malaikat itu dengan ''Ayah''. ''Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,'' tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ''Wahai ayah, janji saya telah sampai.'' Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ''Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. '' ruh Aslina pun menjawab. ''Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai''. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin
bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ''Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,'' ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal
shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ''Siapa kamu?'' lalu perempuan itu menjawab.''Akulah (amal) kamu.''
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seoranglaki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ''Siapa manusia ini?'' Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang. Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. Perjalananmenelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah,Alhamdulillah dan Allahu Akbar.Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya
dalam keadaan (berbuat) baik,red).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarka azan seperti azan di Mekkah. Ia pun
mengatakan kepada amalnya. ''Saya mau shalat.'' Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ''Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,'' ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ''husnul khatimah'' itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya iamelihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ''Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.''
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah. '' Manusia-manusia itu juga memohon. ''Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.'' Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya
ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu
untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat. Legisan mengemukakan pula, mungkin diantara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malamitu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang> jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama. ''Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ''
ujarnya.Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang
mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ''Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.'' Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin
beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ''aku ingin agar aku
dapat kembali dan membatalkan semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100: Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:''Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).''(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat
Az-Zumar ayat 39: ''Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).'' Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan
sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina.
Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan tersebut.
sumber : -www.kaskus.us
-www.riaupos.com
sumber gambar : - http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=5474_0_4_0_M
-http://www.inlightimes.com/archives/1999/11/moody.htm
-http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=1451_0_4_0_M
-http://www.thepeoplesvoice.org/cgi-bin/blogs/voices.php/2006/07/01/p9113
And I thought : Subhanallah,, Betapa beruntungnya azlina yang mendapat Ridho Allah mengunjungi kebesaranNya.
Senin, 09 Juni 2008
Menilik kedatangangan KPK di Bea Cukai
Pada jumat (30/06) lalu tim gabungan dari Bidang Kepatuhan Internal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan sidak di Kantor Pelayanan Utama (KPU) bea cukai Tanjung Priuk Jakarta. Tim tersebut melakukan penggeledahan kepada setiap pegawai Bea cukai. Pada penggeledahan tersebut KPK berhasil mengamankan uang sebesar Rp 500 juta yang tersebar di berbagai tempat. Tak pelak sekitar 20 pejabat bea cukai yang diduga menerima suap, tapi pada akhirnya hanya empat yang resmi dijadikan tersangka. Adapun sisa pejabat bea cukai yang tidak terbukti terlibat penyuapan telah dibebaskan dan dapat melanjutkan pekerjaannya seperti semula.
Kejadian tersebut diatas merupakan pukulan telak bagi Depkeu RI terutama Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai. Hal ini menjadi begitu kompleks karena Depkeu merupakan proyek percontohan dari reformasi birokrasi di lingkungan departemen kenegaraan lainnya. Dalam proyek tersebut terdapat program remunerasi bagi para pegawainya dimana setiap pegawainya akan menerima tunjangan khusus yang tinggi. Remunerasi diadakan guna meningkatkan kecepatan dari pelayanan terhadap publik. Menurut perwakilan Apindo pada harian kompasTanggal 9 juni 2008 mengatakan bahwa sebaiknya dana untuk remunerasi dialihkan kepada pengadaan pelatihan mentalitas pegawai.
Menurut Anwar Suprijadi , Dirjen Bc, pengikut sertaan KPK dalam penggeledahan ini karena dianggap modus penyuapan sudah semakin canggih.
Keputusan Dirjen Bc untuk mengikutsertakan KPK mendapat respon negatif dari para widyaiswara di Pusdiklat Bea Cukai. Mereka mengritik sikap Dirjen karena dianggap tidak dapat mengoptimalkan bidang yang memang sudah ada di bea cukai dalam menghadapi masalah seperti ini.
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan liputan6 terhadap seorang pengusaha menyatakan bahwa pemberian uang tersebut sudah dijadikan sebagai pengeluaran tetap yang disebut sebagai uang pergaulan.
Praktek suap menyuap di bea cukai tidak hanya berlangsung dalam satu atau dua tahun, tetapi sudah berpuluh-puluh tahun lamany dan sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Walaupun begitu pegawai bea cukai tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Karena pada kenyataannya pegawai yang melakukan tindak penyuapan memang sering sekali 'digoda' oleh pengusaha yang ingin mempercepat pengeluaran dokumen pengeluaran barang yang dianggap berlarut-larut sehingga para pengusaha mengambil jalan pintas untuk mempercepat pengeluaran barang tersebut. Pengusaha merisaukan penahanan berlarut-larut terhadap barang mereka karena tingginya harga sewa tempat penyimpanan kontainer per harinya.
Memang jika ditilik akar permasalahannya, semua berawal dari kurangnya tenaga profesinal bea cukai terutama di pelabuhan yang potensial seperti Tanjung Priuk. Karena disinilah 80% kegiatan perdagangan internasional berada. Tak kurang dari 2000 Dokumen kepabeanan masuk setiap harinya. Disamping itu jajaran bea cukai didapuk sebagai penjaga garis depan terhadap barang-barang yang akan masuk ke dalam wilayah Indonesia. Ini semua menjadi kontradiksi prioritas dimana disatu sisi bea cukai wajib memberikan pelayanan yang prima bagi pengguna jasa kepabeanan, tapi disisi lain sebagai batu sandungan bagi barang-barang yang masuk guna pengamanan kedaulatan di negeri ini.
Jika dilihat dari kacamata politi, Semua hal ini disebabkan karena terjadinya sentralisasi pembangunan dimana pertumbuhan yang tidak berimbang di wilayah Indonesia. Hal ini berdampak luas hingga ke bidang kepabeanan ini. Sentralisasi menyebabkan penduduk bertumpu di satu wilayah sehingga secara tidak langsung menyebabkan terpusatnya penggunaan barang dan jasa di Indonesia sehingga tidak salah jika para pengusaha memfokuskan kegiatan perdagangannya di wilayah Jawa. Ketidaksiapan aparat bea cukai menghadapi fenomena ini juga disinyalir sebagai cikal bakal tindakan penyalahgunaan wewenang selain bobroknya mentalitas pegawai.
Dalam mengurangi dampak tidak optimalnya kinerja bea cukai maka harus diadakan langkah-langkah antara lain :
1. Dalam jangka panjang untuk memerataka pembangunan di Indonesia.
2. Membuat suatu pelabuhan alternatif transit dengan standar pelayanan mumpuni.
3. Memperbaiki mentalitas para pegawai.
4. Membangun suatu jaringan komunikasi terpadu antara pengguna dan penyedia jasa.
5. Pembinaan pegawai berbasis kinerja dan citra.
Semua hal tersebut diatas menjadi tidak berguna jika semua sel dari sebuah sistem tidak memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, dimulailah dari pembentukan visi bersama sehingga terjalin koneksi integritas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Minggu, 08 Juni 2008
Manusia Kebal Peluru akhirnya tewas
Awalnya polisi tidak menggubris tantangan Tarzan. Tapi lama-kelamaan polisi merasa perlu melakukan tindakan preventif guna meredam aksi gila ini. Tarzan dengan menenteng golok ditangannya terus menantang polisi untuk maju. Akhirnya polisi mulai mencoba untuk menembak kaki tarzan. Marasa tidak ada luka yang muncul, maka polisi mulai berani untuk menembak di bagian dada. Tak pelak 107 peluru dimuntahkan dari senapan polisi, tapi tak ada satupun yang dapat melukai Tarzan.
Akhirnya seorang warga mencoba memberitahu polisi bahwa semua kekuatan Tarzan berasal dari cincin yang dipakai di jarinya. Seorang penembak jitu dari kepolisian kemudian menembak cincin yang dikenakan Tarzan. seketika itu juga tarzan ambruk dilumpuhkan timah panas polisi. Tarzan tewas ditempat setelah sempat melalui masa kritis.
Sebelumnya Tarzan telah membunuh seorang polisi yang datang bersama seorang warga setempat lainnya untuk menagih hutang sebesar Rp2.000.000,- . Polisi tersebut tewas seketika ditebas golok di bagian belakang kepala oleh tarzan.
Sumber : -Redaksi siang Trans7 tanggal 06 Juni 2008
Link video :http://youtube.com/watch?v=9fxvKPVaJK8
Sumber gambar : doc.pribadi
Jumat, 06 Juni 2008
Ketika pijakan itu merapuh
Setelah maraknya demonstrasi yang dilancarkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari para pakar, pengusaha, mahasiswa, hingga ibu-ibu rumah tangga. Tapi dari sekian banyak demonstrasi yang dilakukan, hanya beberapa saja yang melakukan aksi damai. Sisanya dilakukan dengan aksi yang tidak simpatik bahkan cenderung anarkis. Bisa dilihat demonstrasi yang dilakukan oleh elemen mahasiswa seperti di makasar, jakarta dan sekitarnya. Bahkan BEM seluruh Indonesia telah melancarkan aksinya jauh-jauh hari sebelum kenaikan BBM walaupun tuntutan yang diusung tidak terlalu membahas tentang kenaikan BBM.
Aksi demonstrasi semakin marak terlebih setelah 'kemenangan' mahasiswa yang berhasil menurunkan rezim Alm. Soeharto.
Demonstrasi pada akhir-akhir ini sudah kehilangan esensinya sehingga terkesan rakyat Indonesia merupakan rakyat penuntut dan pemarah. Memang hak kebebasan berpendapat di negeri ini sangat di junjung tinggi. Tetapi nampaknya aksi tersebut menjadi terasa kurang mantap tanpa adanya sedikit pelampiasan fisik. Hal ini menyebabkan gerakan mereka yang semula merupakan gerakan demokrasi intelektual berubah menjadi gerakan urban. Pertentangan internal pun muncul ketika rakyat yang mereka bela habis-habisan malah menyerang balik tindakan antipati mahasiswa. Hal tersebut dapat dilihat ketika demonstrasi di uki, moestopo, makasar, yogyakarta, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai jenuh dengan demokrasi yang ada terlebih demokrasi tersebut dilakukan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak. Pemerintah pun bukannya tidak cacat. Hal ini menggambarkan bahwa demokrasi di Indonesia masih perlu untuk diperjelas dan dibuat aturan main yang jelas sehingga setiap demonstrasi sampai pesannya di dalam pemerintahan. Buntut panjang dari kelemahan ini adalah munculnya perasaan curiga dari setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Contohnya adalah kebijakan pemerintah untuk memberikan Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) yang merupakan dana bantuan sebesar Rp 400.000,- /semester, dianggap seba
gai suap bagi mahasiswa guna meredam aksi-aksi di seluruh nusantara.Pemerintah dianggap sangat lamban dalam mengantisipasi kebijakan yang dibuat sendiri oleh pemerintah terlebih kebijakan kenaikan BBM tersebut dilakukan jauh-jauh hari sebelum kebijakan tersebut benar-benar direalisasikan. Hal ini mengakibatkan kepanikan yang berlebihan di seluruh nusantara ini.
Dampak yang lebih luas adalah munculnya bibit keretakan persatuan dimana di dalamnya mudah sekali tindakan provokasi dilakukan. Bangsa ini dicurigai oleh rakyatnya sendiri. Dasar-dasar pancasila yang dahulu sangat dijunjung tinggi kini hanya tinggal semboyan kerakyatan yang usang dimana pancasila hanya digunakan sebagai pembenaran ketika status kebangsaan dan eksistensi dipertanyakan.
Bangsa ini menjadi rapuh, bahkan terlalu rapuh untuk dipijak. Ketika pemimpin melakukan sesuatu tanpa empati dan ketika rakyat enggan berpegang tangan memangku sesamanya. Hal inilah yang mungkin terjadi saat ini di Indonesia kita.
sumber gambar: - http://nini3l.multiply.com/journal/item/63?&item_id=63&view:replies=reverse
- http://www.suaramerdeka.com/harian/0404/27/nas05.htm
Kamis, 05 Juni 2008
PARADOKS CUKAI INDONESIA
oleh : Idham T A.
setahun.. Hal itu disamping sebagai kegagalan pemerintah dalam perannya sebagai social protector. Hal tersebut juga dianggap suatu celah bagi pemerintah untuk mengisi kas APBN. Kita semua tahu bahwa rokok pada saat ini merupakan barang inelastis sehingga berapapun harganya akan tetap dibeli oleh konsumen . sayangnya menurut data WHO bahwa 70% penduduk Indonesia adalah perokok dan dari 70% tersebut, 60% merupakan penduduk berpenghasilan rendah. Maka sangat tidak tepatlah pemerintah yang saat ini bergantung sangat besar terhadap penerimaan sektor cukai karena industri rokok pada saat ini dapat dikatakan belum terlalu jenuh
sehingga masih merupakan lumbung APBN selama ini. Ketergantungan pemerintah ini terbukti dengan selalu dinaikannya target penerimaan cukai setiap tahunnya oleh pemerintah. Menurut salah seorang widyaiswasa di Pusdiklat Bea Cukai bahwa hal yang pada saat ini diprioritaskan dari beberapa peranan Bea Cukai adalah sebagai revenue collector dan bukan social protector. Hal ini merupakan jawaban yang sangat ironis karena dapat disimpulkan bahwa hidup dan jalannya pemerintah saat ini berasal dari kesehatan masyaraktnya yang terjual. Kita semua pada saat ini seperti menjalankan misi yang hampir mustahil karena disatu sisi pemerintah membutuhkan sintikan dana tersebut guna membiayai APBN. Oleh karena itu pada saat ini peranan pemerintah hanya sebagai "pengingat" akan bahaya merokok karena di sisi lain begitu melimpahnya iklan-iklan atau propaganda dari rokok itu sendiri sehingga peringatan pemerintah di setiap kemasan rokok adalah hanya formalitas belaka . Sampai saat ini Indonesi belum juga memverifikasi Framework Convention on Tobbaco Control (FCTC) dimana diatur bahwa setiap negara yang telah memverifikasi MoU tersebut harus dapat atau telah menerapkan tarif cukai diatas 75%. Pada kondisi seperti saat ini, pemerintahpun bukan tidak mau memverifikasi perjanjian tersebut. Beberapa alasan yang penulis dapat antara lain: 1. Pemerintah tidak mungkin menaikkan tarif dengan drastis, tetapi melalui beberapa tahapan.
2. Pemerintah akan kehilangan salah satu sumber pendapatan APBN.
Dari beberapa alasan di atas maka dapat dilihat bahwa jika sistem penerimaan APBN masih seperti ini maka dipastikan kedua peran Bea
Cukai tidak dapat berjalan beriringan melainkan berbanding terbalik, dimana jika pemerintah menaikkan salah satu peranan maka akan menurunkan peranan lainnya. Pada alasan pertama disebutkan bahwa pemerintah tidak mungkin menaikkan tarif cukai secara drastis karena tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini memang dapat memberikan potensi positif terhadap penurunan konsumsi rokok. Tetapi hal yang perlu diingat adalah bahwa di Indonesia tercatat ada ribuan pengusaha rokok dari berbagai golongan dengan jumlah tenaga kerja buruh mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Dan jika tarif cukai tersebut dinaikkan maka akan berpotensi meningkatkan jumlah tenaga kerja yang akan di PHK. Hal ini sangat mungkin dikarenakan pengusaha rokok di Indonesia sebagian besar adalah pengusaha menengah ke bawah sehingga kedudukannya mudah sekali goyah oleh kenaikan tarif cukai. Menurut data Suara Merdeka pada tanggal 1 november 2007 dengan artikel 'Cukai naik, pabrik terancam gulung tikar' menyatakan bahwa dalam setahun terakhir setelah kenaikan cukai pertama pada awal 2007 telah berhasil menutup 180 perusahaan dari awalnya 380 perusahaan rokok di kabupaten Malang. Masalah ini ibarat buah simalakama karena disatu sisi pemerintah 'dipaksa' oleh gerakan masyarakat anti rokok guna menaikan tarif cukai agar terjadi pengurangan konsumsi dari rokok tersebut. Tetapi di sisi lain jika pemerintah menaikan tarif cukai tanpa pertimbangan matang maka hal tersebut selain dapat membuat terjadinya PHK besar-besaran juga dapat memicu maraknya rokok ilegal dikarenakan mahalnya rokok dengan cukai. Beberapa kesalahan yang mungkin dilakukan pemerintah dalam menyingkapi masalah cukai ini menurut penulis antara lain :1. Rentang waktu yang begitu dekat antara kenaikan saat ini dan kenaikan pada tahun sebelumnya. Ditambah kenaikan tarif yang drastis.
2. Pemerintah hanya mengandalkan pemasukan dari cukai sebagai senjata andalan penutup anggaran APBN terutama dari rokok.
3. Kurangnya sosialisasi dan waktu penerapan aturan baru.
Sebenarnya dapat diatasi dengan cara .
1. Komitmen yang kuat dalam konsistensi pemerintah untuk tidak semata-mata mengejar target penerimaan negara, tetapi harus juga mempertimbangkan aspek sosial dan kesehatan masyarakatnya.
2. Memberdayakan UKM sebagai alternatif penerimaan negara yang baru. Hal ini dapat mencegah etos kerja bangsa ini sehingga diharapkan terjadi transformasi secara simultan dari pemalas menjadi kreatif.
3. Diversifikasi cukai sehingga pemerintah dapat mencari sumber pendapatan yang baru dimana pengenaannya didasarkan kepada asas keadilan sosial.
4. Menciptakan persaingan yang sehat dan reliable bagi masyarakat Indonesia. 5. Memberikan aturan main yang jelas dari para pengusaha rokok dalam melakukan kegiatan produksi, distribusi, dan promosi.
sumber gambar : http://www.surhul.co.uk/smoking
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/02/05/Utama/ut01.htm
http://www.7inusinfobudhi.blogjurnalistikonlain.com/wordpress/?p=132
AND THE SAVIOUR GOES TO EDUCATION
…..Nama saya Denias. Mama saya di surga suruh saya sekolah. Pak guru juga, Maleo juga. Kata mama, gunung takut dengan anak sekolah. Saya mau sekolah ibu gembala…. Itulah sepetik ucapan seorang anak Papua yang bernama denias yang ingin bersekolah layaknya orang lain. Kisah ini pun diangkat sebagai kisah nyata yang diangkat ke layer lebar dengan judul Denias:Senandung di Atas Awan.
Bila dilihat dengan seksama, sebenarnya pendidikan merupakan dasar dari segala permasalahan bangsa ini. Semua yang dilakukan pemerintah dalam rangka memberantas kemiskinan di negeri ini ,seperti Bantuan langsung Tunai (BLT) , bantuan beras miskin, subsidi BBM, dan lain-lain, hanyalah merupakan upaya tambal sulam pemerintah dalam mengentas kemiskinan. Jika kemiskinan terus merajalela maka hal yang pasti dapat diprediksi adalah akan maraknya berbagai upaya menentang pemerintah karena mudahnya mereka dihasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Jika berbicara tentang kekayaan sumber daya maka tidak munglin untuk tidak menyebut Indonesia. Selain itu, kelebihan lain yang dimiliki oleh kita adalah jumlah populasi yang sangat besar. Hal ini janganlah dianggap sebagai suatu kelemahan dari negara kita, tapi bagaimana menjadikannya sebagai nilai tambah bagi kita. Dengan semua hal tersebut, sebenarnya kita dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri, tetapi kenapa malah semua kekayaan kita seakan terjajah oleh bangsa lain karena banyaknya perusahaan berbendera asing yang mengolah sumber-sumber strategis kekayaan kita. Pemerintah mungkin bukannya tidak tahu di negara kita ini melimpah akan sumber daya alam, tetapi sayangnya sumber daya tersebut adalah sumber daya yang harus diolah kembali agar mempunyai nilai ekonomis.
Segala macam bentuk pengentasan kemiskinan adalah omong kosong tanpa peningkatan mutu dan kualitas masyarakat Indonesia. Pendidikan di Indonesia ini harus segera diperbaiki guna memotong garis regenerasi dari mayarakat pemalas dan pemarah yang hanya berorientasi pada hasil dan ingin segala sesuatu berjalan dengan instant tanpa proses berkepanjangan, dan masyarakat yang hanya pandai menghujat dan menuntut tanpa bisa berpartisipasi aktif dalam pelaksanaannya. Hal itu terjadi karena beberapa hal yang dinilai merupakan aspek-aspek dasar dari semua permasalahan bangsa ini. Permasalahan pertama adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan ini sehingga kadang muncul pemikiran bahwa cukuplah rakyat hanya bisa membaca dan menulis. Pemerintah harus menyadari bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang sangat besar dan potensial. Masalah kedua adalah kurangnya apresiasi pemerintah terhadap para peniliti dan para pengajar atau pendidik bangsa. Hal itu dapat dibuktikan dengan maraknya eksodus para peneliti lokal yang hijrah ke luar negeri karena merasa ilmu mereka sangat dihargai disana. Terbukti dengan adanya adanya peneliti Indonesia yang mandapat status sebagai warga kehormatan di beberapa kota di luar negeri. Disana mereka di beri fasilitas yang sangat memadai dan tentu saja dengan imbalan hasil penelitian mereka akan manjadi milik negara yang bersangkutan. Kita berusaha mendatangkan tenaga ahli asing guna mengolah sumber daya, ataupun merakit atau membeli barang-barang dari luar negeri yang mungkin saja barang-barang tersebut merupakan hasil karya putra-putra Indonesia yang terpinggirkan dari bangsanya sendiri .Kemudian, rendahnya minat profesi keguruan dikarenakan rendahnya kesejahteraan yang didapat dari seorang pengajar sehingga mereka pun tidak akan dapat mengajar secara fokus dan total karena mereka sendiri sibuk mencari tambahan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup yang sangat tinggi.
Menurut pengamatan penulis, hal yang mungkin dapat dijadikan alternatif pemerintah dalam membendung laju kebodohan yang bercabang pada kemiskinan antara lain dengan menetapkan kembali dan memperjelas komitmen bersama antara pemerintah dan para pengajar dan pendidik dalam memberantas kebodohan dan kemiskinan dimana setiap masyarakat pendidikan harus mampu memenuhi komitmennya dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik dan begitu pula pemerintah yang wajib berkomitmen dalam apresiasi terhadap pendidikan dan pihak yang terlibat di dalamnya. Selanjutnya setelah komitmen terbentuk, pemerintah dapat mulai merealisasikan besaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam porsi yang layak, memperbaiki kualitas pengajar dan system mengajar sehingga diperoleh suatu standar akademis yang mumpuni dari setiap pengajarnya. Pemerintah harus menggunakan system pengajaran yang berbeda di setiap wilayah di Indonesia, tetapi dengan suatu pencapaian dan standar yang sama pada akhirnya sehingga diharapkan hal tersebut dapat menjadi suatu keseragaman nasional yang berimbas kepada pemerataan kualitas pendidikan yang selama diharapkan. Pembedaan system tersebut perlu dilakukan karena selama ini putra-putra daerah seperti papua selalu diajarkan pendidikan dengan system dan metode yang diterapkan di pulau Jawa yang notabene merupakan sentral kebijakan nasional. Contohnya adalah pada buku-buku pelajaran selalu diajarkan contoh-contoh kalimat seperti “Budi naik becak” atau “Siti membeli dokar”. Kalimat seperti itu hanya akan membuat mereka bertambah bingung karena pada kenyataannya mereka mungkin akan sangat asing mendengar nama seperti Budi atau Siti. Mungkin mereka akan lebih akrab dengan nama Elos, Stephanus, dan lain-lain. Begitu pun dengan becak atau dokar yang merupakan transportasi umum di pulau Jawa, tetapi asing bagi masyarakat papua sehingga kita sama saja mengajarkan sesuatu yang anti-realis kepada rakyat Papua. Hal ini dikarenakan pulau Papua sudah terlalu jauh dalam tingkat pembangunan akibat dari kebijakan sentralisasi pemerintahan sebelumnya sehingga pembangunan menjadi tidak merata yang tanpa disadari berimbas pula terhadap pendidikan di Indonesia.
Semua hal tersebut di atas merupakan hal yang mungkin saja terlupakan oleh pemerintah. Jadi jelaslah bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam mendidik masyarakat sehingga akan tumbuh putra-putri negeri yang tidak hanya sanggup membaca dan menulis, tetapi juga berkepribadian logis, berpikir sebelum bertindak, dan mampu memberikan sumbangsih bersama dengan pemerintah membangun Indonesia yang lebih baik seperti apa yang diucapkan bung Karno.
“Dengan seribu orang tua, aku dapat memindahkan Gunung Semeru. Tetapi
dengan seratus pemuda, aku dapat mengguncang dunia”.
-http://brahmasta.net/2007/06/05/izza-dan-pendidikan-indonesia/
-http://fuadinotkamal.wordpress.com/2008/01/01/pendidikan-indonesiapendidikan-rusak-rusakan/
Rabu, 04 Juni 2008
surat untuk keluarga
oleh : Idham T A.
Assalamualaikum wr wb.
Apa kabar saudaraku? Kalian pasti sangat sibuk sekali disana. Saudaraku, maaf aku lancang untuk menulis surat kepadamu karena aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menemui kalian. Saudara kita yang katanya mewakili kami pun sangat sulit untuk ditemui. Mungkin mereka terlalu sibuk untuk menyalurkan aspirasi kami disana walau aku tidak pernah melihatnya di wilayah kumuh kami. Tapi mungkin aku sedang pergi bekerja ketika mereka mengunjungi kami.
Saudaraku, melalui surat ini aku ingin mengundang kalian untuk dapat menyambangi saudaramu ini. Aku sudah rindu sekali untuk bercengkrama dengan kalian semua. Mungkin kalian terlalu sibuk mengurusi nasib kami. Tapi kalian tidak perlu takut. Kami baik-baik saja disini. Kami selalu giat bekerja agar tidak terlalu membuat kalian susah. Kudengar saudara yang lain pun selalu rajin 
membayar pajak yang salah satunya digunakan untuk kehidupan kalian disana. Kalian pasti dibuat pusing dengan segala keadaan kami. Oleh karena itu, kami selalu berusaha mendukung apa yang kebijakan yang kalian buat. Karena kami yakin kebijakan itu untuk kebaikan kami. Bukankah begitu saudaraku?
Maaf jika aku menganggu waktu sibuk saudaraku sekalian. Aku hanya ingin kalian sudi mengunjungi kami disini hanya sekedar silaturahmi . Keluarga kalian semua menunggu disini.
Aku akan sambut kalian di gubuk reyotku ini yang mungkin luasnya tidak lebih besar dari garasi mobil kalian. Kalian akan kujamu di ruang tamuku yang ketika malam
kusulap menjadi kamar tidur aku dan keluargaku. Tapi maaf jika ingin ke kamar mandi. Kalian harus rela berjalan sekitar beberapa puluh meter untuk menjangkau sungai. Memang disitulah sumber air gratis kami berada dimana mengalir air yang tidak pernah ada habisnya. MCK di tempat kami pun sudah tidak layak untuk digunakan sehingga aku takut kalian merasa jijik melihatnya.
Aku sudah tidak sabar membayangkan untuk mengobrol bersama kalian, walaupun aku tidak mengenal kalian. Kita akan mengobrol tentang saudara muda kita yang kemarin turun ke jalan. Bagaimana keadaan mereka?.
Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi setahuku mereka turun ke jalan atas nama rakyat kecil yang termasuk aku ini. Aku tidak tahu karena aku terlalu sibuk bekerja mencari nafkah untuk keluargaku. Tetapi kenapa saudara yang lain banyak pula yang menyayangkan sikap saudara muda kita itu. apa mungkin cara mereka terlalu mengebu-gebu ? .
Saudaraku, apakah kau tahu? Sebentar lagi pemilu akan digelar kembali.
Itulah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Kau tahu kenapa? Karena pada hari-hari tersebut aku akan sering bersua dengan saudara-saudara kita yang ingin duduk di kursi pemerintahan. Aku sangat senang sekali karena pada waktu tersebut saudara-saudara kita berlomba untuk memberikan sejuta simpatinya kepada kami rakyat kecil. Aku memang sangat merindukan saat-saat itu. Karena itulah hari-hari selama lima tahun dimana tiba-tiba semua saudara-saudara kita itu mengingat kami dan menjadikan kami kekuatan mereka. Aku tidak peduli maksud saudara kita itu, tapi yang pasti selama waktu tersebut kami akan lebih diperhatikan. Semua keluhan kami akan didengar. Walaupun setelah saudara kita itu benar-benar naik di pemerintahan atas nama kami. Mereka mungkin lupa dengan saudaranya ini, tapi kami cukup bersyukur karena setidaknya dalam lima tahun kalian pernah memperhatikan kami. Kami tidak akan peduli siapa saudara kami nanti yang akan memimpin negeri ini selanjutnya. Karena siapapun nanti yang naik. Mereka tetap saudara kami yang ingin membangun negeri ini dengan cara mereka sendiri walau kadang mereka lupa dengan saudara mereka di gubug ini.
Ketika kalian di rumahku nanti, kita akan minum teh istimewa bersama-sama. Istimewa karena airnya sengaja aku beli dari cukong air untuk menyambut kalian. Maaf, karena air bersih disini memang sulit didapat apalagi untuk kota sebesar Jakarta. Aku tidak ingin kalian kecewa ketika berada di rumahku walaupun banyak saudara kita yang lain merasa sering dikecewakan kalian.
Selain itu kita nanti akan makan bersama, tetapi maaf aku tidak mempunyai nasi yang enak dan wangi. Aku tidak sanggup membelinya. Aku hanya mempunyai sedikit persediaan nasi aking. Nasi aking rasanya memang tidak enak, tapi tidak terlalu buruk jika telah terbiasa. Jika sedang beruntung aku akan membeli ikan asin
untuk lauknya. Aku tidak akan membiarkan kalian kelaparan walau memang kadang kami tidak makan nasi sama sekali. Biasanya kami mengakalinya dengan memakan umbi-umbian yang sengaja kami tanam. Aku tidak ingin mengeluh dengan kondisiku ini saudaraku. Karena niscaya separuh hidupku ini tidak akan cukup untuk menuaikan keluh kesahku sedangkan diluar sana rejeki mungkin sedang menungguku. Tetapi maaf saudaraku, kalian akan sedikit menunggu untuk semua makanan siap karena aku hanya mempunyai satu tungku kayu bakar untuk memasak. Sebelumnya aku menggunakan minyak tanah untuk memasak. Tapi kini minyak
tanah sudah tidak ditemukan lagi di pasar. Walaupun ada, tapi harganya sudah tidak terjangkau olehku. Tapi untungnya kalian memberikan kami kompor gratis. Tapi maaf saudaraku, aku sudah tidak menggunakannya lagi. Hal itu karena aku tidak sanggup untuk membeli tabung gas nya. Lagi pula mungkin kalian lupa untuk mengajari kami memakainya. Selain itu aku mendengar saudara kita yang lain menggerutu karena walaupun mempunyai uang untuk membeli tabung gas, tetapi ternyata tabung tersebut menjadi langka sehingga saudara kita tersebut tidak dapat menggunakan kompornya dan disatu sisi kompor minyak tanah pun sudah tidak ada.
Oh maaf saudaraku, omonganku terlalu melantur. Aku lupa memberi tahu kalian untuk tidak lupa membawa selimut ketika menginap di rumahku karena akan terasa dingin di malam hari. Aku memang tidak mempunyai mesin pendingin, tetapi kami punya mesin pendingin milik Tuhan yang tidak pernah berhenti di malam hari. Tetapi sekali lagi aku minta maaf, kalian harus rela berbagi tempat untuk tidur dengan keluargaku karena aku memang tidak mempunyai kamar khusus ntuk kalian.
Baiklah, akan aku tunggu kalian di rumahku. Rumahku tidak berpagar tinggi sehingga akan memudahkan kalian untuk memasukinya. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian walaupun ketika datang nanti mugkin kalian tidak lagi menjadi pemimpin negeri ini. Aku tetap akan menerima kalian karena kita ini saudara. Dahulu kita telah dipersatukan dan sekarangpun akan tetap seperti itu.
wassalamualaikum.
sumber gambar :- http://rzr17.blogs.friendster.com/kodok_ijo/d4ily/index.html
- http://www.bapekojakartapusat.go.id/index.php?q=node/13
- http://www.kabarindonesia.com/foto.php?pil=20071028133433
- http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=nusantara/
- http://qizinklaziva.wordpress.com/2008/03/21/ke-banten-wiranto-cicipi-nasi-aking/
- http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=nusantara/
- http://www.suaramerdeka.com/harian/0602/10/nas05.htm
- ronnysiagian.files.wordpress.com


