Dalam pilkada tahun ini banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi. Tetapi walaupun begitu masih tetap ada tradisi yang tidak pernah hilang dalam ajang sekelas pilkada. Tradisi itu antara lain gugatan dugaan pelanggaran yang dilayangkan pihak minoritas atau si kalah. Berbagai macam bukti dikeluarkan guna membatalkan hasil penghitungan suara.
Tetapi dibalik semua fenomena jadul tersebut, kini muncul fenomena-fenomena lain yang tidak kalah menarik dan mencengangkan. Fenomena tersebut bernama golongan putih. Golongan putih adalah orang yang enggan menggunakan hak yang dimilikinya karena sesuatu hal.
Menurut pengolahan dari berbagai sumber, Pada pilkada kali ini tingkat partisipasi masyarakat cenderung menurun. Misalnya pada pilkada di daerah Jawa Barat yang menghasilkan golput sebesar 35% dari total masyarakatnya. Sedangkan gubernur terpilih Jawa Barat hanya meraih suara sebanyak sekitar 30% dari total partisipan pilkada. Berarti jika nilai partisipasi golput itu diberdayagunakan maka bukan tidak mungkin dapat menjadi kekuatan massa yang baru. Contoh lain misalnya pada pilkada Jawa Tengah dimana tingkat golput mencapai sekitar 45% dari total masyarakat Jawa Tengah. Sedangkan pemenang pilkada Jawa Tengah hanya meraih 47% dari total partisipan pilkada atau hanya sekitar 24% dari total masyarakat Jawa Tengah.
Fenomena ini mungkin terjadi karena semakin rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemimpin-pemimpin terdahulu yang berakibat pada krisis kepercayaan saat ini. Kita tidak dapat menyalahkan masyarakt yang sudah mulai jemu dan bosan dengan semua obral janji pemerintah. Daripada pusing memikirkan janji- janji para pemimpin yang tak kunjung terealisasi maka masyarakat lebih senang untuk mengindahkn momen pemilihan tersebut. Masyarakat sudah benar-benar apatis karena siapapun nanti yang terpilih toh kehidupan mereka akan tetap saja sama.
Hari ini rakyat Indonesia benar-benar membutuhkan figur seorang pemimpin yang mampu membangkitkan kembali semangat berbangsa dan bernegara. Tidak lagi ada tokoh karismatik yang mampu mengajak rakyatnya untuk bersama-sama membangun negeri ini. Saat ini semua orang melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri tanpa harus peduli dengan ketidakberuntungan orang lain. Mungkin benar kata Alm. Pramudya Ananta Toer bahwa bangsa ini terlalu banyak melahirkan pembesar bukan pemimpin.
Indonesia ini harus lebih baik di masa datang.
Selasa, 24 Juni 2008
iklan
contacts
