oleh : Idham T A
Setelah maraknya demonstrasi yang dilancarkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari para pakar, pengusaha, mahasiswa, hingga ibu-ibu rumah tangga. Tapi dari sekian banyak demonstrasi yang dilakukan, hanya beberapa saja yang melakukan aksi damai. Sisanya dilakukan dengan aksi yang tidak simpatik bahkan cenderung anarkis. Bisa dilihat demonstrasi yang dilakukan oleh elemen mahasiswa seperti di makasar, jakarta dan sekitarnya. Bahkan BEM seluruh Indonesia telah melancarkan aksinya jauh-jauh hari sebelum kenaikan BBM walaupun tuntutan yang diusung tidak terlalu membahas tentang kenaikan BBM.
Aksi demonstrasi semakin marak terlebih setelah 'kemenangan' mahasiswa yang berhasil menurunkan rezim Alm. Soeharto.
Demonstrasi pada akhir-akhir ini sudah kehilangan esensinya sehingga terkesan rakyat Indonesia merupakan rakyat penuntut dan pemarah. Memang hak kebebasan berpendapat di negeri ini sangat di junjung tinggi. Tetapi nampaknya aksi tersebut menjadi terasa kurang mantap tanpa adanya sedikit pelampiasan fisik. Hal ini menyebabkan gerakan mereka yang semula merupakan gerakan demokrasi intelektual berubah menjadi gerakan urban. Pertentangan internal pun muncul ketika rakyat yang mereka bela habis-habisan malah menyerang balik tindakan antipati mahasiswa. Hal tersebut dapat dilihat ketika demonstrasi di uki, moestopo, makasar, yogyakarta, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai jenuh dengan demokrasi yang ada terlebih demokrasi tersebut dilakukan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak. Pemerintah pun bukannya tidak cacat. Hal ini menggambarkan bahwa demokrasi di Indonesia masih perlu untuk diperjelas dan dibuat aturan main yang jelas sehingga setiap demonstrasi sampai pesannya di dalam pemerintahan. Buntut panjang dari kelemahan ini adalah munculnya perasaan curiga dari setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Contohnya adalah kebijakan pemerintah untuk memberikan Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) yang merupakan dana bantuan sebesar Rp 400.000,- /semester, dianggap seba
gai suap bagi mahasiswa guna meredam aksi-aksi di seluruh nusantara.Pemerintah dianggap sangat lamban dalam mengantisipasi kebijakan yang dibuat sendiri oleh pemerintah terlebih kebijakan kenaikan BBM tersebut dilakukan jauh-jauh hari sebelum kebijakan tersebut benar-benar direalisasikan. Hal ini mengakibatkan kepanikan yang berlebihan di seluruh nusantara ini.
Dampak yang lebih luas adalah munculnya bibit keretakan persatuan dimana di dalamnya mudah sekali tindakan provokasi dilakukan. Bangsa ini dicurigai oleh rakyatnya sendiri. Dasar-dasar pancasila yang dahulu sangat dijunjung tinggi kini hanya tinggal semboyan kerakyatan yang usang dimana pancasila hanya digunakan sebagai pembenaran ketika status kebangsaan dan eksistensi dipertanyakan.
Bangsa ini menjadi rapuh, bahkan terlalu rapuh untuk dipijak. Ketika pemimpin melakukan sesuatu tanpa empati dan ketika rakyat enggan berpegang tangan memangku sesamanya. Hal inilah yang mungkin terjadi saat ini di Indonesia kita.
sumber gambar: - http://nini3l.multiply.com/journal/item/63?&item_id=63&view:replies=reverse
- http://www.suaramerdeka.com/harian/0404/27/nas05.htm
