Selasa, 24 Juni 2008

Paradigma pilkada Indonesia

Beberapa waktu belakangan ini telah dilaksanakan pilkada-pilkada di beberapa tempat di Indonesia. Pada momen tersebut bangsa ini akan melakukan pemilihan terhadap calon pemimpin daerahnya. Berbagai harapan muncul disetiap momen tersebut.
Dari beberapa pilkada yang telah dilaksanakan, ada beberapa paradigma baru yang berkembang di masyarakat. Hal-hal baru tersebut antara lain munculnya calon-calon muda yang maju ke ajang pemilihan tersebut. Dan nyatanya di beberapa pilkada ternyata partai yang mengusung calon muda lebih diminati kini. Hal itu merupakan tanda bahwa masyarakat saat ini ingin mencoba suatu perjalanan dan pengalaman politik yang baru dengan harapan tercapainya masyarakat yang sejahtera. Terlihat sekali masyarakat kini ingin sekali menemui suatu perubahan. Calon Pasangan pemimpin muda saat ini dapat dinilai positif dalam perjalanan kereta politik di Indonesia dalam menentang dominasi pemimpin yang dinilai sudah out of date. Mungkin masyarakat menganggap karakter yang dimiliki pemimpin lama karena dianggap tidak mampu menjalankan dan mencerminkan keinginan rakyatnya. Pemimpin-pemimpin terdahulu dianggap hanya bergelora pada masa kampanye, tapi loyo disaat memimpin.
Paradigma kedua adalah munculnya partai-partai alternatif sebagai pemenang di beberapa pilkada. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai jenuh dengan mesin politik yang ada. Mesin politik yang ada dinilai sudah uzur dengan mesin yang kolot dan para kelasinya yang setia berpegang teguh terhadap sang kapten yang mempertahankan pemikiran lamanya tanpa mampu mengikuti perkembangan zaman. Ibarat sebuah mobil angkutan yang tua. Lama-lama akan ditinggalkan para penumpangnya yang lebih memilih angkutan dengan mesin terbaru dan SDM modern.
Beberapa hal diatas bukannya merupakan tanda-tanda akan matinya partai-partai kolot yang telah bertahan lama. Tapi merupakan batu sandungan untuk mengingatkan bahwa masyarakat butuh sebuah nafas baru yang segar. Mereka sudah muak dengan kinerja pendekar-pendekar politik tua yang dimana kebijakan-kebijakan politiknya dianggap tidak mampu lagi mencerminkan pola keinginan bangsa.
Bangsa ini tidak perlu pemimpin yang dapat menghasilkan emas permata, bangsa ini tidak perlu pemimpin yang sangat jenius dengan gelar yang berceceran di belakangnya. Bangsa ini hanya membutuhkan pemimpin yang mengerti jalan pikiran rakyat. Pemimpin yang berorientasi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Bangsa ini tidak memerlukan seorang yang superior melainkan pemimpin yang mampu sedikit saja membawa perubahan.

Tidak ada komentar:

iklan

contacts