Bukanlah hal yang aneh apabila banyak sekali partai politik yang berlomba-lomba mencari dukungan dari berbagai kalangan. Mulai dari yang miskin hingga yang kaya. Semua cara digunakan guna meningkatkan perolehan suara ketika pemilihan atau pemungutan suara berlangsung. Cara-cara moderat seperti kampanye, pawai, dan lain sebagainya dianggap sudah kurang efektif. Perolehan suara yang didapat dari cara-cara moderat seperti itu kurang memberikan hasil yang signifikan karen pada akhirnya uang yang berbicara.
Partai yang mampu membaca kondisi masyarakat sekarang ini dapat bergerak lebih cerdik. Mereka menggunakan para public figur guna menjadikannya sebagai kereta politik. Mereka menggunakan para artis-artis tersebut tidak hanya sebagai pemanis dalam setiap kampanye, tetapi lebih jauh lagi dengan mengusungnya sebagai calon-calon wakil rakyat. Sebutlah beberapa nama yang telah memetik sukses menjaring simpati masyarakat seperti Rano Karno (wakil bupati Tangerang), Dede Yusuf (wakil Gubernur Jawa Barat).
Tentu saja tidak ada yang salah dalam kondisi tersebut karena pada dasarnya setiap warga negara Indonesia berhak untuk memilih dan dipilih termasuk para artis tersebut. Hal ini bukanlah hal baru terjadi di dunia politik. Di USA ada beberapa kejadian serupa seperti yang dialami aktor Arnold Schwarzeneger (Gubernur negara bagian Callifornia).
Tetapi seakan menjadi menarik bahwa ternyata kesuksesan para artis tersebut seakan menjadi trendsetter bagi artis lainnya. Sebutlah nama-nama seperti Syaiful Jamil, Primus Yustisio, Venna Melinda, Tere, Helmi Yahya, dan lain-lain. Hal ini memicu spekulasi bahwa kondisi ini menjadi semacam aji mumpung, terkesan main-main dan begitu menyepelekan amanah yang akan diemban. Para artis-artis tersebut memaparkan bahwa mereka mempunyai visi-visi yang segar. Perlu diingat bahwa berbekal visi saja tidaklah cukup. Visi-visi tersebut nampak sangat subjektif karena kelihatan hanya berdasar pada hati nurani. Padahal pada kenyataannya penerapan dasar hati nurani saja dirasakan masih kurang. Dibutuhkan lebih dari sekedar hati nurani dalam membuat sebuah visi. Diperlukan 'bumbu-bumbu' lain yang menyertainya seperti nalar, logika, dan empati.
Memang strategi menggunakan public figur ini dirasakan sangat efektif karena partai mereka akan lebih dikenal. Bisa dilihat dalam lembaran pemilu, terutama dalam pemilihan anggota legislatif pusat dimana terpampang puluhan wajah yang nampak begitu asing di beberapa bagian masyarakat.
Masyarakat akan cenderung memilih sosok yang akrab dalam ingatan mereka sehingga jangan heran bila para artis dapat mereguk kemenangan.
Tidak ada yang perlu atau dapat dipersalahkan. Ini hanyalah salah satu plot cerita yang akan dijalani oleh roda demokrasi Indonesia. Kita lihat saja kinerja para public figur tersebut dalam panggung politik. Akankah semanis peran mereka dalam layar kaca?
Semoga saja idealisme yang mereka tawarkan tidak terkotori oleh dominasi golongan sehingga hanya akan menjadikan mereka boneka politik semata. Panggung yang akan mereka lakoni akan terasa lebih berat karena setiap keputusan yang akan dibuat harus dapat dipertanggungjawabkan dengan beban dua ratus juta jiwa dipundak mereka. Hal itu menjadi sangat relevan karena tidak akan ada pengulangan dalam setiap adegannya.
Kamis, 17 Juli 2008
Selasa, 08 Juli 2008
Bangsaku bukan sampah
Beberapa hari lalu tersiar kabar bahwa sekelompok warga miskin di daerah cirebon terpaksa membeli makanan kadaluarsa karena himpitan ekonomi. Mereke membeli makanan-makanan kebutuhan sehari-hari seperti susu, roti, makanan kecil, dan lain-lain yang kesemuanya sudah kadaluarsa dan berjamur. Makanan-makanan tersebut dijual bebas dan terang-terangan pada warung-warung di pasar tradisional.
Dalam tayangan yang disiarkan program berita salah satu stasiun TV swasta tersebut
Terlihat sebuah keluarga yang sedang menikmati roti yang telah berjamur. Mereka merobek bagian-bagian yang berjamur dan memakan bagian yang belum ditumbuhi jamur. Kemudian ditayangkan pula seorang anak balita yang sedang memakan snack yang tentu saja sudah kadaluarsa, sedangkan sang ibu masih asyik berbelanja makanan-makanan kadaluarsa lainnya. Para pembeli dan pedagang sama-sama menyadari dan mengetahui bahwa makanan dan minuman tersebut merupakan barang kadaluarsa. Tetapi iming-iming harga yang sangat murah dan kebutuhan ekonomi lainnya yang membuat mereka membeli dan menjual barang-barang kadaluarsa tersebut. Mirisnya lagi ternyat dinas kesehatan di cirebon ternyata mengetahui bahwa di wilayahnya beredar makanan dan minuman kadaluarsa. Tetapi mereka tidak melakukan tindakan preventif aktif dengan alasan bahwa belum ada keluhan dari warga masyarakat.
Miris sekali nasib bangsa ini. Ternyata demokrasi saja tidak cukup untuk membawa kesejahteraan bagi rakyat karena hanya mencakup aspek politis dalam wadah NKRI. Kasus di cirebon merupakan dampak nyata akan bobolnya pengawasan distribusi kesejahteraan rakyat.
Lihat bagaimana ketika rakyat negeri ini memakan makanan yang semestinya telah menjadi sampah. Ironisnya barang-barang tersebut didistribusikan oleh bagian dari bangsa ini. Inilah bentuk penindasan yang paling ditakutkan. Yaitu ketika himpitan ekonomi menghapus nalar logika dan emosi. Bagaimana ketidakpedulian menyebabkan hilangnya empati terhadap sesama. Dan yang terakhir adalah bagaimana semua aspek di atas mengakibatkan penindasan yang dilakukan oleh bangsanya sendiri.
Dalam tayangan yang disiarkan program berita salah satu stasiun TV swasta tersebut
Terlihat sebuah keluarga yang sedang menikmati roti yang telah berjamur. Mereka merobek bagian-bagian yang berjamur dan memakan bagian yang belum ditumbuhi jamur. Kemudian ditayangkan pula seorang anak balita yang sedang memakan snack yang tentu saja sudah kadaluarsa, sedangkan sang ibu masih asyik berbelanja makanan-makanan kadaluarsa lainnya. Para pembeli dan pedagang sama-sama menyadari dan mengetahui bahwa makanan dan minuman tersebut merupakan barang kadaluarsa. Tetapi iming-iming harga yang sangat murah dan kebutuhan ekonomi lainnya yang membuat mereka membeli dan menjual barang-barang kadaluarsa tersebut. Mirisnya lagi ternyat dinas kesehatan di cirebon ternyata mengetahui bahwa di wilayahnya beredar makanan dan minuman kadaluarsa. Tetapi mereka tidak melakukan tindakan preventif aktif dengan alasan bahwa belum ada keluhan dari warga masyarakat.
Miris sekali nasib bangsa ini. Ternyata demokrasi saja tidak cukup untuk membawa kesejahteraan bagi rakyat karena hanya mencakup aspek politis dalam wadah NKRI. Kasus di cirebon merupakan dampak nyata akan bobolnya pengawasan distribusi kesejahteraan rakyat.
Lihat bagaimana ketika rakyat negeri ini memakan makanan yang semestinya telah menjadi sampah. Ironisnya barang-barang tersebut didistribusikan oleh bagian dari bangsa ini. Inilah bentuk penindasan yang paling ditakutkan. Yaitu ketika himpitan ekonomi menghapus nalar logika dan emosi. Bagaimana ketidakpedulian menyebabkan hilangnya empati terhadap sesama. Dan yang terakhir adalah bagaimana semua aspek di atas mengakibatkan penindasan yang dilakukan oleh bangsanya sendiri.
Kamis, 03 Juli 2008
Indonesia tidak mendebat bangsanya
Akhir-akhir ini banyak sekali acara-acara dimana sebuah pro dan kontra akan suatu masalah dipertemukan dalam satu forum. Mereka bebas mengemukakan pendapatnya masing-masing. Tidak peduli bagaimana caranya agar mereka dapat menang dalam perdebatan tersebut. Tak urung sikap saling ejek, meremehkan, dan merendahkan orang lain mengemuka dalam acara tersebut. Kondisi ditambah panas dengan kehadiran para pendukung masing-masing juru bicara.
Bukan suatu hal yang mustahil bila gara-gara berbeda pendapat saja, sepasang sahabat dapat menjadi musuh guna mempertahankan keyakinannya.
Pada saat ini terlihat bahwa acara tersebut hanya merupakan bentuk komersil dari acara-acara yang mengusung tema perdebatan. Acara debat sudah menjadi hilang dan kabur dari esensi pokoknya. Segala bentuk tata krama dalam perdebatan mulai dihilangkan walaupun tidak seluruhnya. Perdebatan selalu diakhiri dengan saling ejek, hina, dsb. Apa ini yang dikatakan demokrasi?
Bukankah sebuah perdebatan dilakukan untuk saling melengkapi dan mengoreksi agar sesuatu yang diperdebatkan menjadi lurus dan dapat diterima oleh kedua belah pihak. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah seseorang yang mencoba mati-matian mempertahankan pendapatnya walaupun telah terbukti bahwa pendapatnya keliru. Pada akhirnya jawabn yang muncul menjadi tidak relevan. Kemudian muncul saling ejek guna menekan lawan. Apa maksud semua itu?
Ketika acara selesai maka dipastikan tidak akan mendapat simpulan apa-apa. Tidak ada hasil positif dari apa yang diperdebatkan. Dan masalah yang diperdebatkan akan terus menggantung tanpa tahu bagaimana cara mengatasinya.
Contohnya adalah salah satu perusahaan tv swasta yang biasa menyiarkan acara debat dalam salah satu program acaranya. Tema yang diangkat merupakan current issue yang sedang terjadi. Antara lain demo anarkis, kenaikan BBM, hak angket, dll. Disitu terlihat setiap orang tidak lagi menyampaikan aspirasi secara murni, tetapi menyampaikan aspirasi guna menekan dan mematikan lawan debatnya. Tapi ironisnya ternyata hal seperti itulah yang dibangun oleh para perusahaan pers. Rakyat ini disuguhi tayangan dimana setiap saudaranya saling cerca dan ejek. Dan ternyata rakyat menyukainya.
Mengapa harus terjadi seperti itu?
Kapan Indonesia ini berhenti berdebat dan coba memulai melakukan sesuatu?
Janganlah marah. Tapi akuilah jika wajar Presiden kita menyebut bangsa ini sebagai bangsa yang pemalas dan pemarah.
Sekali lagi saya tekankan jangan marah.
Penulis yakin orang-orang yang dihadirkan dalam acara tersebut adalah orang yang berkompeten di bidangnya. Tapi sayang mereka lebih senang menggunakannya untuk mematikan lawan bicaranya yang tidak lain adalah saudara sebangsanya sendiri.
Semua orang sibuk mencari kambing hitam. Tidak ada yang berniat membenahi bangsa ini karena rasa memiliki yang semu dan pragmatis terhadap bangsa dan negara ini.
Sudahlah .. Saatnya kita berpikirak lebih dewasa. Jangan mau menjadi bangsa yang mudah di pecah belah. Kuatkan fondasi kepercayaan antar sesama. Karena apalagi yang dapat dihadirkan oleh bangsa yang rapuh selain rasa percaya. Kita harus belajar lebih banyak tentang hal tersebut.
Mari kita bersama-sama songsong Indonesia yang lebih baik.
Hanya dengan partisipasi aktif, bangsa ini dapat dikembalikan kedudukannya di posisi terhormat.
Ingatlah, bangsa ini pernah dihormati di semenanjung malaya hingga madagaskar. Sekarang kita mulai lagi dari nol dan susun kembali semuanya.
Indonesia harus lebih baik di masa datang.
Bukan suatu hal yang mustahil bila gara-gara berbeda pendapat saja, sepasang sahabat dapat menjadi musuh guna mempertahankan keyakinannya.
Pada saat ini terlihat bahwa acara tersebut hanya merupakan bentuk komersil dari acara-acara yang mengusung tema perdebatan. Acara debat sudah menjadi hilang dan kabur dari esensi pokoknya. Segala bentuk tata krama dalam perdebatan mulai dihilangkan walaupun tidak seluruhnya. Perdebatan selalu diakhiri dengan saling ejek, hina, dsb. Apa ini yang dikatakan demokrasi?
Bukankah sebuah perdebatan dilakukan untuk saling melengkapi dan mengoreksi agar sesuatu yang diperdebatkan menjadi lurus dan dapat diterima oleh kedua belah pihak. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah seseorang yang mencoba mati-matian mempertahankan pendapatnya walaupun telah terbukti bahwa pendapatnya keliru. Pada akhirnya jawabn yang muncul menjadi tidak relevan. Kemudian muncul saling ejek guna menekan lawan. Apa maksud semua itu?
Ketika acara selesai maka dipastikan tidak akan mendapat simpulan apa-apa. Tidak ada hasil positif dari apa yang diperdebatkan. Dan masalah yang diperdebatkan akan terus menggantung tanpa tahu bagaimana cara mengatasinya.
Contohnya adalah salah satu perusahaan tv swasta yang biasa menyiarkan acara debat dalam salah satu program acaranya. Tema yang diangkat merupakan current issue yang sedang terjadi. Antara lain demo anarkis, kenaikan BBM, hak angket, dll. Disitu terlihat setiap orang tidak lagi menyampaikan aspirasi secara murni, tetapi menyampaikan aspirasi guna menekan dan mematikan lawan debatnya. Tapi ironisnya ternyata hal seperti itulah yang dibangun oleh para perusahaan pers. Rakyat ini disuguhi tayangan dimana setiap saudaranya saling cerca dan ejek. Dan ternyata rakyat menyukainya.
Mengapa harus terjadi seperti itu?
Kapan Indonesia ini berhenti berdebat dan coba memulai melakukan sesuatu?
Janganlah marah. Tapi akuilah jika wajar Presiden kita menyebut bangsa ini sebagai bangsa yang pemalas dan pemarah.
Sekali lagi saya tekankan jangan marah.
Penulis yakin orang-orang yang dihadirkan dalam acara tersebut adalah orang yang berkompeten di bidangnya. Tapi sayang mereka lebih senang menggunakannya untuk mematikan lawan bicaranya yang tidak lain adalah saudara sebangsanya sendiri.
Semua orang sibuk mencari kambing hitam. Tidak ada yang berniat membenahi bangsa ini karena rasa memiliki yang semu dan pragmatis terhadap bangsa dan negara ini.
Sudahlah .. Saatnya kita berpikirak lebih dewasa. Jangan mau menjadi bangsa yang mudah di pecah belah. Kuatkan fondasi kepercayaan antar sesama. Karena apalagi yang dapat dihadirkan oleh bangsa yang rapuh selain rasa percaya. Kita harus belajar lebih banyak tentang hal tersebut.
Mari kita bersama-sama songsong Indonesia yang lebih baik.
Hanya dengan partisipasi aktif, bangsa ini dapat dikembalikan kedudukannya di posisi terhormat.
Ingatlah, bangsa ini pernah dihormati di semenanjung malaya hingga madagaskar. Sekarang kita mulai lagi dari nol dan susun kembali semuanya.
Indonesia harus lebih baik di masa datang.
Langganan:
Postingan (Atom)
iklan
contacts
