Kamis, 03 Juli 2008

Indonesia tidak mendebat bangsanya

Akhir-akhir ini banyak sekali acara-acara dimana sebuah pro dan kontra akan suatu masalah dipertemukan dalam satu forum. Mereka bebas mengemukakan pendapatnya masing-masing. Tidak peduli bagaimana caranya agar mereka dapat menang dalam perdebatan tersebut. Tak urung sikap saling ejek, meremehkan, dan merendahkan orang lain mengemuka dalam acara tersebut. Kondisi ditambah panas dengan kehadiran para pendukung masing-masing juru bicara.
Bukan suatu hal yang mustahil bila gara-gara berbeda pendapat saja, sepasang sahabat dapat menjadi musuh guna mempertahankan keyakinannya.
Pada saat ini terlihat bahwa acara tersebut hanya merupakan bentuk komersil dari acara-acara yang mengusung tema perdebatan. Acara debat sudah menjadi hilang dan kabur dari esensi pokoknya. Segala bentuk tata krama dalam perdebatan mulai dihilangkan walaupun tidak seluruhnya. Perdebatan selalu diakhiri dengan saling ejek, hina, dsb. Apa ini yang dikatakan demokrasi?
Bukankah sebuah perdebatan dilakukan untuk saling melengkapi dan mengoreksi agar sesuatu yang diperdebatkan menjadi lurus dan dapat diterima oleh kedua belah pihak. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah seseorang yang mencoba mati-matian mempertahankan pendapatnya walaupun telah terbukti bahwa pendapatnya keliru. Pada akhirnya jawabn yang muncul menjadi tidak relevan. Kemudian muncul saling ejek guna menekan lawan. Apa maksud semua itu?
Ketika acara selesai maka dipastikan tidak akan mendapat simpulan apa-apa. Tidak ada hasil positif dari apa yang diperdebatkan. Dan masalah yang diperdebatkan akan terus menggantung tanpa tahu bagaimana cara mengatasinya.

Contohnya adalah salah satu perusahaan tv swasta yang biasa menyiarkan acara debat dalam salah satu program acaranya. Tema yang diangkat merupakan current issue yang sedang terjadi. Antara lain demo anarkis, kenaikan BBM, hak angket, dll. Disitu terlihat setiap orang tidak lagi menyampaikan aspirasi secara murni, tetapi menyampaikan aspirasi guna menekan dan mematikan lawan debatnya. Tapi ironisnya ternyata hal seperti itulah yang dibangun oleh para perusahaan pers. Rakyat ini disuguhi tayangan dimana setiap saudaranya saling cerca dan ejek. Dan ternyata rakyat menyukainya.
Mengapa harus terjadi seperti itu?
Kapan Indonesia ini berhenti berdebat dan coba memulai melakukan sesuatu?
Janganlah marah. Tapi akuilah jika wajar Presiden kita menyebut bangsa ini sebagai bangsa yang pemalas dan pemarah.
Sekali lagi saya tekankan jangan marah.
Penulis yakin orang-orang yang dihadirkan dalam acara tersebut adalah orang yang berkompeten di bidangnya. Tapi sayang mereka lebih senang menggunakannya untuk mematikan lawan bicaranya yang tidak lain adalah saudara sebangsanya sendiri.
Semua orang sibuk mencari kambing hitam. Tidak ada yang berniat membenahi bangsa ini karena rasa memiliki yang semu dan pragmatis terhadap bangsa dan negara ini.
Sudahlah .. Saatnya kita berpikirak lebih dewasa. Jangan mau menjadi bangsa yang mudah di pecah belah. Kuatkan fondasi kepercayaan antar sesama. Karena apalagi yang dapat dihadirkan oleh bangsa yang rapuh selain rasa percaya. Kita harus belajar lebih banyak tentang hal tersebut.
Mari kita bersama-sama songsong Indonesia yang lebih baik.
Hanya dengan partisipasi aktif, bangsa ini dapat dikembalikan kedudukannya di posisi terhormat.
Ingatlah, bangsa ini pernah dihormati di semenanjung malaya hingga madagaskar. Sekarang kita mulai lagi dari nol dan susun kembali semuanya.
Indonesia harus lebih baik di masa datang.

Tidak ada komentar:

iklan

contacts