Kamis, 17 Juli 2008

Panggung baru demokrasi Indonesia

Bukanlah hal yang aneh apabila banyak sekali partai politik yang berlomba-lomba mencari dukungan dari berbagai kalangan. Mulai dari yang miskin hingga yang kaya. Semua cara digunakan guna meningkatkan perolehan suara ketika pemilihan atau pemungutan suara berlangsung. Cara-cara moderat seperti kampanye, pawai, dan lain sebagainya dianggap sudah kurang efektif. Perolehan suara yang didapat dari cara-cara moderat seperti itu kurang memberikan hasil yang signifikan karen pada akhirnya uang yang berbicara.
Partai yang mampu membaca kondisi masyarakat sekarang ini dapat bergerak lebih cerdik. Mereka menggunakan para public figur guna menjadikannya sebagai kereta politik. Mereka menggunakan para artis-artis tersebut tidak hanya sebagai pemanis dalam setiap kampanye, tetapi lebih jauh lagi dengan mengusungnya sebagai calon-calon wakil rakyat. Sebutlah beberapa nama yang telah memetik sukses menjaring simpati masyarakat seperti Rano Karno (wakil bupati Tangerang), Dede Yusuf (wakil Gubernur Jawa Barat).
Tentu saja tidak ada yang salah dalam kondisi tersebut karena pada dasarnya setiap warga negara Indonesia berhak untuk memilih dan dipilih termasuk para artis tersebut. Hal ini bukanlah hal baru terjadi di dunia politik. Di USA ada beberapa kejadian serupa seperti yang dialami aktor Arnold Schwarzeneger (Gubernur negara bagian Callifornia).
Tetapi seakan menjadi menarik bahwa ternyata kesuksesan para artis tersebut seakan menjadi trendsetter bagi artis lainnya. Sebutlah nama-nama seperti Syaiful Jamil, Primus Yustisio, Venna Melinda, Tere, Helmi Yahya, dan lain-lain. Hal ini memicu spekulasi bahwa kondisi ini menjadi semacam aji mumpung, terkesan main-main dan begitu menyepelekan amanah yang akan diemban. Para artis-artis tersebut memaparkan bahwa mereka mempunyai visi-visi yang segar. Perlu diingat bahwa berbekal visi saja tidaklah cukup. Visi-visi tersebut nampak sangat subjektif karena kelihatan hanya berdasar pada hati nurani. Padahal pada kenyataannya penerapan dasar hati nurani saja dirasakan masih kurang. Dibutuhkan lebih dari sekedar hati nurani dalam membuat sebuah visi. Diperlukan 'bumbu-bumbu' lain yang menyertainya seperti nalar, logika, dan empati.
Memang strategi menggunakan public figur ini dirasakan sangat efektif karena partai mereka akan lebih dikenal. Bisa dilihat dalam lembaran pemilu, terutama dalam pemilihan anggota legislatif pusat dimana terpampang puluhan wajah yang nampak begitu asing di beberapa bagian masyarakat.
Masyarakat akan cenderung memilih sosok yang akrab dalam ingatan mereka sehingga jangan heran bila para artis dapat mereguk kemenangan.
Tidak ada yang perlu atau dapat dipersalahkan. Ini hanyalah salah satu plot cerita yang akan dijalani oleh roda demokrasi Indonesia. Kita lihat saja kinerja para public figur tersebut dalam panggung politik. Akankah semanis peran mereka dalam layar kaca?
Semoga saja idealisme yang mereka tawarkan tidak terkotori oleh dominasi golongan sehingga hanya akan menjadikan mereka boneka politik semata. Panggung yang akan mereka lakoni akan terasa lebih berat karena setiap keputusan yang akan dibuat harus dapat dipertanggungjawabkan dengan beban dua ratus juta jiwa dipundak mereka. Hal itu menjadi sangat relevan karena tidak akan ada pengulangan dalam setiap adegannya.

iklan

contacts