Kamis, 05 Juni 2008

AND THE SAVIOUR GOES TO EDUCATION

…..Nama saya Denias. Mama saya di surga suruh saya sekolah. Pak guru juga, Maleo juga. Kata mama, gunung takut dengan anak sekolah. Saya mau sekolah ibu gembala…. Itulah sepetik ucapan seorang anak Papua yang bernama denias yang ingin bersekolah layaknya orang lain. Kisah ini pun diangkat sebagai kisah nyata yang diangkat ke layer lebar dengan judul Denias:Senandung di Atas Awan.

Dsc00270

Bila dilihat dengan seksama, sebenarnya pendidikan merupakan dasar dari segala permasalahan bangsa ini. Semua yang dilakukan pemerintah dalam rangka memberantas kemiskinan di negeri ini ,seperti Bantuan langsung Tunai (BLT) , bantuan beras miskin, subsidi BBM, dan lain-lain, hanyalah merupakan upaya tambal sulam pemerintah dalam mengentas kemiskinan. Jika kemiskinan terus merajalela maka hal yang pasti dapat diprediksi adalah akan maraknya berbagai upaya menentang pemerintah karena mudahnya mereka dihasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Jika berbicara tentang kekayaan sumber daya maka tidak munglin untuk tidak menyebut Indonesia. Selain itu, kelebihan lain yang dimiliki oleh kita adalah jumlah populasi yang sangat besar. Hal ini janganlah dianggap sebagai suatu kelemahan dari negara kita, tapi bagaimana menjadikannya sebagai nilai tambah bagi kita. Dengan semua hal tersebut, sebenarnya kita dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri, tetapi kenapa malah semua kekayaan kita seakan terjajah oleh bangsa lain karena banyaknya perusahaan berbendera asing yang mengolah sumber-sumber strategis kekayaan kita. Pemerintah mungkin bukannya tidak tahu di negara kita ini melimpah akan sumber daya alam, tetapi sayangnya sumber daya tersebut adalah sumber daya yang harus diolah kembali agar mempunyai nilai ekonomis.

Segala macam bentuk pengentasan kemiskinan adalah omong kosong tanpa peningkatan mutu dan kualitas masyarakat Indonesia. Pendidikan di Indonesia ini harus segera diperbaiki guna memotong garis regenerasi dari mayarakat pemalas dan pemarah yang hanya berorientasi pada hasil dan ingin segala sesuatu berjalan dengan instant tanpa proses berkepanjangan, dan masyarakat yang hanya pandai menghujat dan menuntut tanpa bisa berpartisipasi aktif dalam pelaksanaannya. Hal itu terjadi karena beberapa hal yang dinilai merupakan aspek-aspek dasar dari semua permasalahan bangsa ini. Permasalahan pertama adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan ini sehingga kadang muncul pemikiran bahwa cukuplah rakyat hanya bisa membaca dan menulis. Pemerintah harus menyadari bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang sangat besar dan potensial. Masalah kedua adalah kurangnya apresiasi pemerintah terhadap para peniliti dan para pengajar atau pendidik bangsa. Hal itu dapat dibuktikan dengan maraknya eksodus para peneliti lokal yang hijrah ke luar negeri karena merasa ilmu mereka sangat dihargai disana. Terbukti dengan adanya adanya peneliti Indonesia yang mandapat status sebagai warga kehormatan di beberapa kota di luar negeri. Disana mereka di beri fasilitas yang sangat memadai dan tentu saja dengan imbalan hasil penelitian mereka akan manjadi milik negara yang bersangkutan. Kita berusaha mendatangkan tenaga ahli asing guna mengolah sumber daya, ataupun merakit atau membeli barang-barang dari luar negeri yang mungkin saja barang-barang tersebut merupakan hasil karya putra-putra Indonesia yang terpinggirkan dari bangsanya sendiri .Kemudian, rendahnya minat profesi keguruan dikarenakan rendahnya kesejahteraan yang didapat dari seorang pengajar sehingga mereka pun tidak akan dapat mengajar secara fokus dan total karena mereka sendiri sibuk mencari tambahan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup yang sangat tinggi.

Picture045

Menurut pengamatan penulis, hal yang mungkin dapat dijadikan alternatif pemerintah dalam membendung laju kebodohan yang bercabang pada kemiskinan antara lain dengan menetapkan kembali dan memperjelas komitmen bersama antara pemerintah dan para pengajar dan pendidik dalam memberantas kebodohan dan kemiskinan dimana setiap masyarakat pendidikan harus mampu memenuhi komitmennya dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik dan begitu pula pemerintah yang wajib berkomitmen dalam apresiasi terhadap pendidikan dan pihak yang terlibat di dalamnya. Selanjutnya setelah komitmen terbentuk, pemerintah dapat mulai merealisasikan besaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam porsi yang layak, memperbaiki kualitas pengajar dan system mengajar sehingga diperoleh suatu standar akademis yang mumpuni dari setiap pengajarnya. Pemerintah harus menggunakan system pengajaran yang berbeda di setiap wilayah di Indonesia, tetapi dengan suatu pencapaian dan standar yang sama pada akhirnya sehingga diharapkan hal tersebut dapat menjadi suatu keseragaman nasional yang berimbas kepada pemerataan kualitas pendidikan yang selama diharapkan. Pembedaan system tersebut perlu dilakukan karena selama ini putra-putra daerah seperti papua selalu diajarkan pendidikan dengan system dan metode yang diterapkan di pulau Jawa yang notabene merupakan sentral kebijakan nasional. Contohnya adalah pada buku-buku pelajaran selalu diajarkan contoh-contoh kalimat seperti “Budi naik becak” atau “Siti membeli dokar”. Kalimat seperti itu hanya akan membuat mereka bertambah bingung karena pada kenyataannya mereka mungkin akan sangat asing mendengar nama seperti Budi atau Siti. Mungkin mereka akan lebih akrab dengan nama Elos, Stephanus, dan lain-lain. Begitu pun dengan becak atau dokar yang merupakan transportasi umum di pulau Jawa, tetapi asing bagi masyarakat papua sehingga kita sama saja mengajarkan sesuatu yang anti-realis kepada rakyat Papua. Hal ini dikarenakan pulau Papua sudah terlalu jauh dalam tingkat pembangunan akibat dari kebijakan sentralisasi pemerintahan sebelumnya sehingga pembangunan menjadi tidak merata yang tanpa disadari berimbas pula terhadap pendidikan di Indonesia.

Semua hal tersebut di atas merupakan hal yang mungkin saja terlupakan oleh pemerintah. Jadi jelaslah bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam mendidik masyarakat sehingga akan tumbuh putra-putri negeri yang tidak hanya sanggup membaca dan menulis, tetapi juga berkepribadian logis, berpikir sebelum bertindak, dan mampu memberikan sumbangsih bersama dengan pemerintah membangun Indonesia yang lebih baik seperti apa yang diucapkan bung Karno.

“Dengan seribu orang tua, aku dapat memindahkan Gunung Semeru. Tetapi
dengan seratus pemuda, aku dapat mengguncang dunia”.

sumber gambar :
-http://brahmasta.net/2007/06/05/izza-dan-pendidikan-indonesia/
-http://fuadinotkamal.wordpress.com/2008/01/01/pendidikan-indonesiapendidikan-rusak-rusakan/

Tidak ada komentar:

iklan

contacts